tidak menentang kehendak pencipta

Minggu, 12 Februari 2012

Tantangan Pendidikan Vokasi

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi sorotan publik dengan kehadiran mobil rakitan Kiat Esemka. Banyak orang berbicara tentang kepemimpinan Jokowi, nasib kegagalan mobil nasional, juga termasuk politik pencitraan Jokowi. Tapi, tampaknya orang tidak akan membicarakan nasib masa depan siswa-siswa (dan) SMK terutama di hadapan masyarakat, dunia industri, dan pengambil kebijakan pendidikan.

Sekolah SMK pada dasarnya adalah sekolah keprofesian, vokasional, atau keahlian sebagai jalur profesi. Proyeksi lulusannya, dengan demikian, adalah untuk mendapatkan kerja yang sesuai dengan keahlian yang telah mereka pelajari di bangku SMK.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana jika mereka tidak mendapatkan pekerjaan. Apa penyebabnya? Dalam pengamatan saya, di sini ada dua penyebab. Pertama, memang lulusan itu tidak kompeten. Untuk mengatasi permasalahan ini, langkah-langkah yang harus dikerjakan antara lain membenahi kurikulum, memperbaiki tenaga pendidik yang mumpuni dengan menyekolahkan lagi, memperbanyak praktik, dan sebagainya.

Namun, untuk mengatakan bahwa lulusan SMK Solo sekarang sudah cukup kompeten memang tidak mudah jika parameternya adalah mendapatkan pekerjaan. Dari sini kita masuk ke penyebab yang kedua, yaitu tidak ada lapangan pekerjaan bagi lulusan SMK tersebut. Di sini permasalahan menjadi sangat rumit dan kompleks. Meski demikian, pada dasarnya kembali pada pertumbuhan ekonomi yang harus ditingkatkan dan dijaga stabilitasnya untuk menyiapkan dan memberikan lapangan kerja.

Kampung industri vokasi
Untuk itu, melihat dari segi pemegang pemerintahan, perlu dikembangkan kampung vokasi. Selama ini pemerintah Solo cukup banyak memberikan perhatian pada kampung batik. Ke depan, pemerintah Solo seharusnya bisa mengembangkan kampung kerajinan, kampung kesenian, kampung teknologi, dan sebagainya, yang dikelola sesuai dengan menejemen berkultur Jawa untuk menampung lulusan SMK. Di kampung-kampung ini, pemerintah dituntut untuk mengembangkan dan menjadikannya sebagai basis industri rumahan (home industy).

Dua permasalahan internal dan eksternal ini harus dikelola secara sinergis. Di sini, kita ingat model pendidikan ala Orde Baru untuk menunjang proyek pembangunan ekonomi. Yaitu model pendidikan link and match. Model ini sangat tepat diterapkan untuk lembaga pendidikan SMK sebagai pendidikan vokasi. Pada intinya, model pendidikan ini berbasis pada penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan ekonomi. Keterampilan profesi para siswa disesuaikan (link) dengan dengan lapangan pekerjaan yang ada (match).

Pendidikan vokasi akan gagal jika mengabaikan model pendidikan ini. Maka SMK-SMK dituntut untuk terus-menerus menyesuaikan vokasionalitasnya dengan permintaan pasar kerja. Di sini, pemerintah, swasta, dan sekolah SMK harus bersinergi dengan melakukan kerja sama atau kontrak kerja. Di Solo, SMK yang sudah mengantongi kontrak kerja dengan perusahaan pemerintah atau swasta sangat sedikit. Ini menjadi masalah penting.

Mentalitas
Masalah yang tak kalah penting adalah mentalitas siswa SMK. SMK, sebagaimana yang ada sekarang, memprioritaskan pada teaching factory, memfokuskan pengajarannya pada keterampilan vokasional sebagai bekal hidup secara mandiri. Dengan demikian, pekerjaan untuk mereka lebih banyak di luar pemerintahan atau pegawai negeri sipil (PNS).

Padahal, sudah menajdi rahasia umum bahwa orang Jawa memiliki mentalitas priyayi yang sangat kental. Mereka lebih suka menjadi abdi/pegawai negeri sipil (PNS). Bukan saja keuntungan ekonominya lebih menjamin, tapi juga memiliki nilai ibadah kultural kejawaan yang sangat kuat. Warisan kerajaan dan kolonialisme itu masih mendarah daging. Saat ada pendaftaran PNS, pesertanya sangat membludak.

Mengurusi masalah ini jauh lebih rumit dari pada masalah teknis. Siswa SMK harus diberi motivasi pengembangan diri berbasis enterpreneurship. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi seorang teknisi atau seorang ahli di bidang tertentu, mereka juga harus didorong untuk menjadi bos, pengusaha, inovator, katakanlah sebagai technopreneur, bogaprenuer, artpreneur, dan sebagainya.

Perguruan tinggi
Permasalahan berikutnya adalah bagi siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Sudah menjadi kesadaran umum bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang semakin besar kesempatan sukses di kemudian hari. Maka tidak mengherankan jika lulusan SMK yang dipersiapkan untuk langsung bekerja masih tetap berburu bangku perguruan tinggi. Perguruan tinggi tetap menggiurkan dengan janji-janji masa depannya.

Yang jadi masalah, program-program atau jurusan kejuruan atau vokasi di perguruan tinggi sangat tidak populer dan kurang menggiurkan. Maka dari itu, program semacam D-1 sampai D-3 tidak banyak peminatnya dan dengan demikian tidak digarap dengan serius oleh perguruan tinggi khususnya universitas. Bahkan, beberapa perguruan tinggi menghapus program-program kejuruan. Hal ini merugikan bagi lulusan SMK yang ingin memperdalam dan mengasah skill vokasional mereka. Siswa SMK tidak bisa mengembangkan profesi mereka sampai pada jenjang spesialis (bandingkan dengan jurusan kedokteran, yang sebenarnya juga bisa dikatakan program profesi).

Masalah ini tidak banyak diekspos karena lulusan SMK sudah diasumsikan ”siap kerja” tanpa perlu mempercanggih pengetahuan mereka. Dalam alam globalisasi seperti sekarang dimana sekat-sekat lokal mulai jebol, siswa SMK tidak boleh hanya bermodal ”siap kerja” tapi juga harus bermodal ”siap belajar”. Etos ini akan memberi mereka jiwa kemandirian, siap menerima tantangan masa depan, dan siap menghadapi perubahan. Dan untuk itu, perguruan tinggi (juga lembagalembaga lainnya) dengan jurusan vokasional harus dipersiapkan bagi mereka.

Yang jadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah pemerintah Solo sudah memiliki kemauan yang mengarah ke sana? Solo yang sudah mengukuhkan diri sebagai Kota Vokasi harus menghadapi masalah ini. Jokowi-Rudy ditantang untuk menyelesaikan atau paling tidak membuka jalan penyelesaian pada kepemimpinan mereka yang kedua ini. Masalah-masalah ini menjadi pekerjaan rumah yang sudah menunggu. Permasalahan ini memang tidak akan terselesaikan dengan segera pada pemerintahan Jokowi-Rudy. Tapi, paling tidak, Jokowi-Rudy bisa mempersiapkan lahan yang subur, dengan memperbaiki kualitas sekolah-sekolah SMK, memperbaiki iklim usaha, segera merampungkan Solo Techno Park, lalu mempromosikan dan meminta perguruan tinggi untuk memperbaiki, jika memang sudah ada, dan membuka jurusan profesi spesialis sebagai jenjang lanjutan bagi lulusan SMK.

Terakhir, dalam lahan yang subur, benih-benih berkualitas akan tumbuh dengan baik, ekonomi akan tumbuh dan maju, dan dengan demikian, masyarakat Solo bisa sejahtera. Apakah Solo akan menjadi pemantik kebangkitan teknologi Indonesia?


Hudzaifah
Peserta pendampingan SMK 2011-2012

Rabu, 08 Februari 2012

Tentang Kebahagiaan



Hari ini, tepatnya hari kamis, hari setelah hari rabu yang pada awalnya menurut perkiraanku merupakan hari yang nantinya akan membuatku bahagia ternyata mungkin lain arti sebuah kebahagiaan itu. Bahagia itu seperti apa? Pertanyaan yang detik ini muncul dalam pikiranku sekarang. Ingatanku melayang membawa kepada sebuah film yang bagiku sangat menyentuh. Film yang menceritakan tokoh utama seorang ayah yang berjuang demi keluarga tercinta hanya berdasarkan pekerjaanya sebagai agen tunggal penjual pemindai tulang mutakhir ketika itu. Berawal dari kepercayaan bahwa semua dokter-dokter di rumah sakit nantinya akan memakai pemindai tulang tersebut karena karakteristik pemindai tulang tersebut yang unik dan dengan teknologi mutakhir. Namun ternyata, kepercayaan seorang ayah tersebut pudar setelah menjual pemindai tulang kepada beberapa dokter dikarenakan para dokter mengamini pemindai tersebut hanyalah peralatan yang tidak vital dan mahal. Kesulitan menjual pemindai membuat jatuhnya keutuhan keluarganya. Hingga akhirnya istrinya menyatakan pisah dengan sang ayah dan anak laki-lakinya yang masih kecil. Perjuangan sang ayah pun masih diuji untuk menghidupi anaknya dengan persediaan uang yang sangat minim. Hampir setiap hari di hujat oleh pemilik kontrakan dan sewa rumah karena terlambat dan sering melarikan diri karena tidak ada uang untuk membayar sewa. Pengalaman yang paling getir adalah ketika sang ayah sudah tidak memiliki uang sepeserpun juga tidak mendapat tempat bermalam bagi glandangan yang disediakan oleh gereja, dan akhirnya memutuskan diri untuk tidur di dalam toilet stasiun dan mengancingnya dari dalam. Suatu hari sang ayah mencoba untuk mencari pekerjaan dan mendaftar untuk magang di sebuah perusahaan pialang saham. Berbagai ujian ketika penataran dilaluinya dan akhirnya atas kerja kerasnya dia diterima sebagai peserta tunggal magang kerja di perusahaan pialang saham tersebut. ingatkah dengan film “The Pursuit of Happyness”? itulah film yang aku ceritakan diatas.

Kisah dari film itu menurutku adalah sebuah kisah tentang sebuah kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan itu pertama tidak datang dengan sendirinya, kebahagiaan itu datang atas undangan kita, sekali lagi tidak semata-mata akan datang dengan sendirinya. Kedua, kebahagiaan itu diciptakan dari beberapa hal yang mungkin tidak mengenakkan, kesengsaraan, penderitaan. Ketiga, hadirnya kebahagiaan itu harus melalui berbagai usaha yang penuh keyakinan akan hadirnya kebahagiaan. Keempat kesabaran akan menuntun datangnya kebahagiaan dengan sangat menggembirakan.
Yang paling menarik dari film itu adalah ketika sang ayah mengalihkan kesengsaraan yang sedang dialaminya dengan bahasa penuh muatan pendidikan anak usia dini sehingga menjadi sesuatu yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi anaknya, baik ketika diusir, ketika anaknya tidak bermain lagi di tempat penitipan anak, ketika harus bersabar mengantri untuk mendapat penginapan gratis bagi glandangan yang disediakan oleh gereja, ataupun ketika harus terpaksa tidur di toilet karena tidak mendapat penginapan gratis tersebut.
Mungkin sekedar share saja tentang kebahagiaan kali ini kawan.

Selasa, 31 Januari 2012

Sinar dalam Toples

Sepertinya aku mengalami hal yang sama, hal yang biasa aku lakukan setiap kali ku regangkan otot-otot kelopak mataku. Berusaha menahan tabrakan ribuan cahaya yang ingin mencapai retinaku. ketika itu memori otak ku bergerak, merekam segala cahaya yang tertabrak dengan cepat dan empuk di dinding-dinding retina.

Secara perlahan cahaya ini di pilah-pilah oleh otakku. Aku dapat membedakan kesemua warna, tapi hanya sebagian warna yang aku ketahui. Ku tolehkan kepalaku ke samping kiri, hanya dinding warna cream yang ada. Di depanku hanyalah atap beton yang dihiasi dua lampu neon yang bergelantungan seperti buah dalam pohonya, memancarkan cahaya putih tegas keseluruh penjuru sudut ruangan.

Aku baru sadar, tubuhku sedang terlentang di pinggiran ruang ini, ruang kesekertariatan pers kampus UNS. Ruang yang keseharianya selalu dihiasi oleh mahasiswa-mahasiswa sok kritis, sok idealis, sok pragmatis, sok alim, dan terlebih sok pintar. Hanya bualan dan gombalan manis dari mulut-mulut mereka, termasuk aku. Biar kita sok-sok an ala apa yang kita minta, karena dengan sok-sok an seperti ini adalah harapan-harapan kami, impian-impian kami tentang masa depan yang kami idamkan, do’a kami untuk mengabulkan apa yang kami inginkan.

Ku tegakkan tulang punggungku tegak lurus dengan kedua kakiku yang membujur lurus ke dapan. Di sampingku hanya notebook yang menemani tidurku dengan setia. Dengan layar yang seakan tak lelah terus menyinari apa yang di depanya sambil mengumandangkan playlist kesukaanku, lagu akustik-akustik dari beberapa penyanyi asing. Mengantar tidurku di hari kemaren.

Di luar langit masih menyimpan misterinya, misteri yang tak seorangpun dapat mengira akan gelap pekat di dalamnya, hanya kerlap-kerlip bintang yang memberikan inspirasi ketika aku memandang luasnya sang langit. Jikalau aku temukan bulan kali ini, teringatlah aku pada seorang wanita muda yang membuatku seakan sedang mengalami skizofernia. Seolah aku sekarang berbincang di hadapanya. Dengan anggun memandangku, memperhatikanku, dia memang Wanita dengan pancaran wajah yang bersih, ayu dan lembut. Tapi tidak aku jumpai bulan hingga gelapnya malam tergerus perlahan oleh tegasnya sinar mentari.

Warna kuning telur bebek dan kemudian terus menguning, hingga menyingkirkan cahaya-cahaya kerlip bintang. Andai langit terus seperti ini, dimana cahaya mentari tidak memenuhi gelapnya langit, ketika bintang masih bisa turut menghiasi langit, dan ada bulan bersolek indah di ujung barat, sedangkan rona kuning telur bebek tetap di ujung timur. Ingin kumiliki suasana ini sebagai koleksiku, kuwadahi dalam toples kecilku. Toples yang kemanapun aku bawa. Mengganti isinya dengan kesemua yang aku lihat sekarang.

Berulang kali ku buka toplesku, namun tidak terengut cahaya-cahaya yang aku inginkan. Cahaya bintang, kuning telor bebek dalam gelapnya warna langit. Mungkin toplesku tidak muat untuk menampung kesemuanya. Aku harus mencari toples yang lebih luas, melebihi luasnya bintang, luasnya bulan, luasnya langit dan luasnya bumi.

Kemanakah aku dapat membeli toples semacam itu, di toko manakah terjual? Apakah di toko orang-orang cina pasar gedhe? Atau toko barang-barang antik ngarsopuro? kalaupun ada, uangkupun tak cukup untuk membelinya. Dalam dompetku hanyalah ada selembaran uang berhias di tengah foto Oto Iskandar Dinata. Seorang pahlawan yang lantang berani mengkritik pemerintahan belanda dengan pedas, hingga si jalak harupat menjadi julukanya ketika itu.

Mungkin aku harus mengurungkan niat untuk membeli toples semacam itu. Tapi, bukanya aku punya sebuah penampung akan segalanya, melebihi kecanggihan kantong ajaib doraemon, melebihi luasnya bintang, luasnya matahari, luasnya bulan, luasnya langit. Batasan dari wadah yang aku miliki tidaklah Nampak, bagiku batasan dari wadah itu adalah ketidak berbatasan, dan hanyalah diri kita yang tahu batasan itu, bersama sang pencipta. Yang terbenam lebih luas dari pada yang terlihat, begitu Sigmund freud menganalogikannya dengan fenomena gunung es. Dialah pikiran ku, pikiran seorang kecil dengan angan-angan masa depan yang besar.

graha ukm uns, Autis
Jum’at, 27 Mei 2011

Refrigerant

BAB I
PENDAHULUAN


Refrigeran merupakan bahan pendingin atau fluida yang digunakan untuk menyerap panas melalui perubahan fase dari cair ke gas (evaporasi) dan membuang panas melalui perubahan fase dari gas ke cair (kondensasi), sehingga refrigeran dapat dikatakan sebagai pemindah panas dalam sistem pendingin. Adapun pengertian lainnya adalah Refrigerasi atau pendinginan merupakan proses pengambilan atau pengeluaran kalor dari suatu materi atau ruangan dan mempertahankan keadaannya sedemikian rupa sehingga temperaturnya lebih rendah dari pada lingkungan sekitarnya. Pada prinsipnya refrigerasi adalah terapan dari mata kuliah Perpindahan Panas dan Thermodinamika, dimana kalor akan mengalir atau berpindah dari suatu keadaan yang mempunyai temperatur tinggi ke suatu keadaan yang bertemperatur rendah.
Sedangkan pengkondisian udara atau penyegaran udara adalah merupakan satu dari teknik-teknik refrigerasi. Penyegaran udara itu sendiri adalah suatu proses pendinginan udara sehingga dapat dicapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan yang dipersyaratkan terhadap kondisi udara dari suatu ruangan tertentu serta mengatur aliran udara dan kebersihan udaranya.
Untuk mencapai tujuan dari penyegaran udara tersebut, dibutuhkan suatu fluida kerja yang disebut refrigerant. Dimana refrigeran akan dialirkan melalui sistem. Dalam sistem tersebut, refrigeran mengalami beberapa proses atau perubahan fase (cair dan uap), yaitu refrigeran yang mula-mula pada keadaan awal (cair), setelah melalui beberapa proses akan kembali ke keadaan awalnya.

PEMBATASAN MASALAH
Pada tulisan ini akan membahas tentang berbagai macam-macam refrigeran yang digunakan dalam proses pendinginan termasuk juga sifat dan karakeristik dari masing-masing refrigeran.

DASAR TEORI
Refrigeran ada dua macam yaitu refrigeran primer dan sekunder. Adapun pengertian refrigeran primer adalah refrigeran yang digunakan dalam sistem kompresi uap. Dan refrigeran sekunder adalah cairan-cairan yang digunakan untuk membawa energi kalor bersuhu rendah dari satu lokasi ke tempat lain. Nama lain dari refrigersai sekunder adalah cairan anti beku atau brines (larutan garam).
Ada tiga susunan utama refrigeran yang digunakan pada saat ini yaitu :
1. Refrigerant fluorocarbon terhidrogenasi (HFC), yang terdiri dari hidrogen, fluorin, dan karbon.Karena mereka tidak menggunakan atom klor (yang digunakan dalam sebagian besar refrigerant) mereka dikenal sebagai salah satu yang paling merusak lapisan ozon kita.
2. Terhidrogenasi klorofluorokarbon refrigeran (HCFC), yang terdiri dari hidrogen, klorin, fluorin, dan karbon. Refrigeran ini mengandung jumlah minimal klorin, yg tidak merusak lingkungan karena berbeda dari refrigeran lain.
3. Refrigerant chlorofluorocarbon (CFC), yang mengandung klorin, fluorin dan karbon. Refrigerant ini membawa jumlah kaporit yang tinggi sehingga dikenal sebagai refrigerant yang paling berbahaya untuk merusak lapisan ozon.
Kadang-kadang refrigerant terdiri dari dua atau lebih senyawa kimia.
Campuran ini terurai menjadi dua jenis yaitu Zeotropes dan Azeotropes.
refrigeran campuran Zeotrope terutama terbuat dari tiga jenis refrigerant
Dibawah ini ada beberapa jenis refrigeran yang biasa dipergunakan, antara lain :
1. Udara
Refrigeran ini sangat murah, tidak beracun dan tidak mudah terbakar. Koefisien prestasi rendah. Biasanya digunakan pada pesawat terbang.
2. Carbon Dioksida (CO2)
Senyawa ini tidak berwarna, tidak berbau dan lebih berat dari udara. Titik didihnya -78,5˚C, berat jenisnya 1,56 dan hanya dapat beroperasi pada tekanan tinggi sehingga pemakaiannya terbatas dan biasanya dipakai pada proses refrigerasi dengan tekanan per ton yang besar.
3. Methil Clorida (CH3Cl)
Berupa cairan tidak berwarna dan tidak berbau merangsang. Titik didihnya – 23,7 0F.
4. Freon atau Cloro Fluoro Carbon (CFC)
Freon merupakan refrigeran yang paling banyak digunakan dalam sistem pendingin. Bahan dasarnya ethane dan methane yang berisi fluor dan chlor dalam komposisinya. Karena mengandung unsur chlor refrigeran jenis ini mempunyai dampak penipisan ozon dimana akan berpengaruh negatif terhadap kehidupan makhluk hidup di bumi. Selain itu, juga berdampak negatif terhadap iklim, yaitu meningkatkan suhu rata-rata dan perubahan iklim global serta pencemaran udara.
Spesifikasi freon yang biasa digunakan dalam pendinginan
Nama Rumus Kimia Titik Didih (˚C)
Freon – 11 CCl3F 23,8
Freon – 12 CCl3F2 - 29,8
Freon – 13 CClF3 - 81,4
Freon – 21 CHCL2F 8,9
Freon – 22 CHClF2 - 40,8

5. Uap Air
Refrigeran ini paling murah dan paling aman. Pemakaiannya terbatas untuk pendingin suhu tinggi karena mempunyai titik beku yang tinggi, yaitu 0˚C. pemakaian utamanya untuk comfort air cionditioning dan water cooling.
6. Hidrocarbon
Dipakai pada industri karena harganya murah. Jenisnya butana, iso butana, propana, propylana, etana dan etylana. Semuanya mudah terbakar dan meledak.
Berikut ini macam-macam nama kimia dari hidrokarbon :
Ketentuan penomoran+ Nama kimia Rumus kimia
50 Metana CH4
170 Etana C2H6
290 Propana C3H8

7. Amonia (NH3)
Amonia ini digunakan secara luas pada mesin refrigerasi industri atau refrigerasi kapasitas besar. Titik didihnya kurang lebih - 33˚C. zat ini mempunyai karakteristik bau meskipun pada konsentrasi kecil di udara. Tidak dapat terbakar, tetapi meledak jika bereaksi dengan udara dengan prosentase 13,28 %. Oleh karena itu efek korosi amonia, tembaga atau campuran tembaga tidak boleh digunakan pada mesin dengan refrigeran amonia.



8. Azetropes
Merupakan campuran dari beberapa refrigeran yang mempunyai sifat berbeda. Jenis yang banyak dipakai :
• Correne-7
Yang terdiri dari campuran 73,8 % freon-12 dan 26,2% genetron 100.
• Refrigeran-502
Merupakan campuran dari 98,8 % freon-12 dan 51,2 % freon-115
9. Larutan Garam (brine)
Larutan garam (brine) juga digunakan untuk refrigeran misalnya untuk pendinginan lokasi lapangan es (ice skating rinks).
9. Sulfur Dioksida (SO2)
Berupa gas atau cairan yang tidak berwarna, sangat beracun dan berbau merangsang. Senyawa ini tidak mudah terbakar dan tidak mudah meledak. Dengan titik didih – 10,1˚C.
9. Hydro Fluoro Carbon (HFC)
HFC merupakan refrigeran baru sebagai alternatif untuk menggantikan posisi freon. Hal ini disebabkan karena refrigeran freon mengandung zat chlor (Cl) yang dapat merusak lapisan ozon. Sedangkan HFC terdiri dari atom-atom hidrogen, fluorine dan karbon tanpa adanya zat chlor (Cl).
Macam-macam HFC dan pemakaiannya :
• HFC 125 (CHF2CF3)
Sebagai pengganti freon–115 / R115 untuk pendingin air.
• HFC 134a (CH3CH2F)
Merupakan alternatif pengganti freon-12 / R-12. tidak mudah meledak dan tingkat kandungan racun rendah, digunakan untuk pengkondisian udara, lemari es dan pendingin air.
• HFC 152a (CH3CHF2)
Sebagai pengganti freon-12 / R-12 digunakan untuk penyegaran udara, pendingin air.

Karakteristik Refrigeran
Karena refrigeran merupakan bahan yang penting dalam proses refrigerasi, agar dapat menyerap panas (evaporasi) dan mengeluarkan panas (kondensasi) dengan baik. Karakteristik thermodinamikanya antara lain meliputi temperatur penguapan serta temperatur pengembunan dan tekanan pengembunan.
Persyaratan refrigeran untuk unit refrigerasi adalah sebagai berikut :
• Tekanan penguapan harus tinggi
• Tekanan pengembunan yang tidak terlalu tinggi
• Kalor laten penguapan harus tinggi
• Volume spesifik (refrigeran) yang cukup kecil
• Koefisisen prestasinya harus tinggi
• Konduktifitas thermal yang tinggi
• Viskositas yang rendah dalam fase cair maupun fase gas
• Konstanta dielektrika dari refriegerasi yang kecil, tahanan listrik yang besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material
• Refrigerasi tidak boleh beracun dan berbau merangsang
• Refrigerasi tidak boleh mudah terbakar dan meledak
• Refrigerasi harus mudah didieteksi, jika terjadi kebocoran
• Harganya tidak mahal dan mudah diperoleh

KESIMPULAN
Dari semua uraian yang telah penulis sampaikan, dapat diambil beberapa kesimpulan :
1. Setiap refrigeran mempunyai siafat dan karakter yang berbeda-beda, dan juga mempunyai kelebihan dan kekurangan
2. Titik didih refrigeran sangat mempengaruhi dalam penyerapan kalor pada suatu ruangan. Apabila titik didih refrigeran tinggi maka kalor ruangan akan sulit diserap oleh refrigeran dan titik didih refrigeran yang rendah maka kalor ruangan dapat diserap oleh refrigeran.
3. Kemampuan penyerapan kalor pada ruangan semakin besar apabila titik didih suatu fluida refrigeran semakin rendah.
4. Dalam memilih refrigeran haruslah selektif mungkin agar tidak terjadi dampak yang merugikan pada lingkungan sekitar.
5. Freon atau HFC mempunyai sifat yang dapat merusak lapisan ozon, oleh karena itu diciptakanlah HFC yang lebih ramah lingkungan dan tidak merusak lapisan ozon.





DAFTAR PUSTAKA


http://dc317.4shared.com/doc/dMb2SMEN/preview.html
http://neozgx.blogspot.com/2011/02/macam-macam-gas-refrigerant.html
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/TM/article/view/3546

Sabtu, 28 Januari 2012

Aneling

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pembahasan
Pembahasan ilmu bahan (logam) merupakan pembahasan yang cukup kompleks, berbagai pertimbangan teknik ada di dalamnya. Mulai dari jenis bahan, peralatan yang digunakan untuk mengolah, proses dalam pengolahan, dan masih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan lain yang perlu banyak dipelajari.
Diantara pembahasan dalam ilmu bahan, dan sekaligus sebagai Mata Kuliah adalah Perlakuan Panas yaitu mempelajari cara untuk merubah sifat mekanis suatu bahan dengan adanya pemanasan. Salah satu dari cara perlakuan panas adalah pelunakan logam atau dikenal dengan istilah Annealing. Banyak jenis dari cara/ proses Annealing ini, ada full Annealing, dan Spheroidized Annealing. Karena masih minimnya penjelasan mengenai materi proses Annealing ini, dan sekaligus sebagai tugas dari Mata Kuliah Perlakuan Panas agar mahasiswa lebih bisa memahami materi, makalah dengan judul “Proses Pelunakan (Annealing) pada Baja Karbon Tinggi” kami susun.

B. Pembatasan Masalah
Dalam proses perlakuan panas seperti yang sudah dipaparkan pada bagian Latar Belakang Pembahasan, memiliki berbagai cara, dan khusus dalam makalah ini kami hanya membatasi pembahasan pada “Proses Pelunakan (Annealing) pada Baja Karbon Tinggi”.

C. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini dibuat rumusan masalah :
1. Apakah yang dimaksud Proses Annealing pada baja karbon tinggi ?
2. Apakah tujuan Proses Annealing pada baja karbon tinggi ?
3. Bagaimanakah Proses Annealing pada baja karbon tinggi ?


D. Tujuan Pembahasan
Dalam penyusunan makalah ini memiliki tujuan agar :
1. Mengetahui maksud Proses Annealing pada baja karbon tinggi.
2. Mengetahui tujuan Proses Annealing pada baja karbon tinggi.
3. Mengetahui bagaimana Proses Annealing pada baja karbon tinggi.

E. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan Metode Kepustakaan, yaitu penyusun mengkaji dan menyusun materi dari buku-buku atau literatur-literatur yang sesuai dan mendukung pembahasan makalah.



BAB II.
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Proses Annealing

Yang dimaksud dengan annealing ialah menurunkan kekerasan suatu baja dengan jalan memanaskan baja tersebut pada temperatur diatas temperatur krisis maksimum 9800C, dan kemudian dinginkan secara perlahan-lahan di udara (sampai dingin). Sebagai misal baja dengan kadar karbon 1,2%C, susunan strukturnya adalah sementit dan pearlit, setelah kita annealing maka akan didapat susunan pearlit agak kasar sehingga mengurangi kekerasan dari baja tersebut.

B. Langkah Kerja Proses Annealing

1. Proses Annealing
Proses annealing adalah sebagai berikut :
a. Benda kerja kita masukkan ke dalam kotak baja yang kita isi dengan terak atau pasir.
b. Panaskan pada temperatur 980o C selama 1 sampai 3 jam.
c. Setelah cukup waktunya kotak kita angkat dari dapur.
d. Benda kerja didinginkan dengan perlahan-lahan.
2. Pendinginan Proses Annealing
Proses pendinginan dapat dilakukan dengan cara :
a. Benda kerja dikeluarkan dai kotak dan dibiarkan dingin perlahan-lahan dengan pendinginan dari udara.
b. Benda kerja bersamaan kotaknya dibiarkan dingin perlahan-lahan dengan pendinginan udara.
c. Kotak yang berisi benda kerja dibiarkan dalam dapur dan dapur kita matikan. Sehingga dapur, benda kerja dan kotak mengalami pendinginan perlahan-lahan dari udara.

C. Tipe Proses Annealing

1. Full Annealing
Full annealing (FA) terdiri dari austenisasi dari baja yang diikuti dengan pendinginan yang lambat didalam tungku, kemudian temperatur yang dipilih untuk austenisasi tergantung pada kandungan karbon dari baja tersebut.
Full annealing untuk baja hipeutektoid dilakukan pada temperatur austenisasi sekitar 500C diatas garis A3 dan mendiamkannya pada tempertur tersebut untuk jangkauan waktu tertentu, kemudian diikuti dengan pendinginan yang lambat diatas tungku. Pada temperatur austenisasi, pembentukan austenit akan merubah struktur yang ada sebelum dilakukan pemanasan, dan austenit yang terbentuk relatif halus. Pendinginan yang lambat didalam tungku akan menyebabkan austenit mengurai menjadi perlit dan ferit. Pemanasan yang terlalu tinggi diatas A3akan menyebabkan austenit tumbuh sehingga dapat merugikan sifat baja yang diproses.
Menganil/annealing baja hipereutektik dilakukan dengan cara memanaskan baja tersebut diatas A1 untuk membulatkan sementit proeutektoid. Jika baja hipereutektik dipanaskan pada temperatur Acm dan didinginkan perlahan-lahan, maka pada batas butir akan terbentuk sementit preutektoid sehingga akan terjadi rangkaian sementit pada batas butir austenit. Pendinginan yang diperlambat akan menyebabkan presipitasi ferit sebagai kelompok yang terpisah. Pembentukan daerah pemisah ferit pada baja yang tidak dikehendaki karena akan menimbulkan daerah yang lunak (soft spot) selama proses pengerasan berlangsung. Full annealing juga diterapkan pada baja karbon dan baja paduan hasil proses pengecoran serta baja hot worked hipereutektoid. Untuk produk cor yang besar, terutama yang terbuat dari baja paduan, Full annealing akan memperbaiki mampu mesin dan juga menaikan kekuatan akibat butir-butirnya menjadi halus. Full annealing juga diterapkan pada baja-baja dengan kadar karbon lebih dari 0,5% agar mampu mesinnya menjadi lebih baik.

2. Spheroidized Annealing
Baja karbon medium dan tinggi memiliki kekerasan yang tinggi dan sulit untuk dikerjakan dengan mesin dan dideformasi. Untuk melunakkan baja ini dilakukan proses spheroidizing. Proses spheroidizing dilakukan dengan cara memanaskan baja pada temperatur sedikit dibawah temperatur eutectoid, yaitu sekitar 700 0C. Pada temperatur tersebut ditahan selama 15 hingga 25 jam. Kemudian didinginkan secara perlahan-lahan di dalam tungku pemanas hingga mencapai temperatur kamar.



BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Tujuan Spheroidized Annealing


Gambar 1. Diagram Phasa Fe-F3C pada Daerah Autectoid

Spheroidized Annealing adalah salah satu dari jenis proses Annealing yang lebih tepat untuk baja karbon tinggi. Spheroidized annealing (SA) dilakukan dengan cara memanaskan baja sedikit diatas atau dibawah titik A1 (lihat Gambar 1), kemudian didiamkan pada temperatur tersebut untuk jangka waktu tertentu kemudian diikuti dengan pendinginan yang lambat.
Proses ini ditujukan agar karbida-karbida yang berbentuk lamelar pada perlit dan sementit sekunder menjadi bulat. Disamping itu, perlakuan ini ditujukan mendeformasikan struktur seperti martensit, trostit, dan sorbit serta lain sebagainya yang merupakan hasil akhir dari proses quench. Gambar 2 memperlihatkan struktur hasil proses sperodisasi baja perkakas.
Gambar 2. Daerah Kesetimbangan Besi Karbon Menunjukkan Daerah
Temperatur untuk Spheroidized Annealing
Tujuan dari spheroidized annealing adalah untuk memperbaiki mampu mesin dan mempebaiki mampu bentuk. Sebagai contoh mampu mesin baja perkakas karbon tinggi sangat baik jika strukturnya sperodisasi. Semua jenis baja perkakas paduan, termasuk kelas karbida maupun baja untuk bantalan harus memiliki kondisi sperodisasi agar hasil pemesinannya baik.

B. Metode Spheroidized Annealing

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya proses Spheroidized Annealing merupakan salah satu dari jenis annealing yang paling tepat untuk memproses (melunakkan) baja karbon tinggi. Hal ini dilakukan agar dalam pemrosesan bahan menjadi lebih mudah diproses dan rapi (hasil pemesinan yang baik). Hal ini karena struktur logam (karbida berbentuk lamelar pada perlit dan sementit sekunder) dengan proses ini menjadi bulat. Dalam melakukan Spheroidized Annealing terdapat 4 metode yaitu :
1. Metode Pertama
Baja dipanaskan dekat temperatur A1 dan harus dijaga agar tidak melampaui tempelatur tersebut untuk mencegah pembentukan austenit. Baja tersebut kemudian ditahan pada temperatur tersebut untuk suatu jangka waktu tertentu agar diperoleh karbida yang bulat dan agak kasar. Tinggi temperatur dan lama pemanasan yang dipilih sangat tergantung pada kondisi struktur baja sebelumnya dan komposisi kimia baja tersebut. Baja yang memiliki karbon kurang dari 0,3% tidak cocok untuk disperodisasi karena struktur baja-baja karbon rendah terdiri dari ferit dan sejumlah kecil perlit.
Perlit yang kasar akan mudah terbentuk pada proses pendinginan yang lambat, sebagai contoh baja karbon paduan di spheroidized annealing yang temperatur sekitar 700o C untuk selama 4-6 jam. Makin lama pemanasan, akan makin kasar perlit yang terbentuk.
Temperatur spheroidized annealing dipengaruhi oleh unsur-unsur paduan, keberadaan Ni atau Mn akan menurunkan temperatur A1 dan akibatnya akan menurunkan temperatur spheroidized annealing. Jadi untuk baja yang mengandung Ni 4%, maka tempelatur spheroidized annealingnya serendah-rendahnya adalah 670o C. Temperatur yang lebih rendah akan mempengaruhi waktu prosesing menjadi lebih lama (8-10 jam).Dilain pihak, HSS yang mengandung W, V, dan Mo dan juga Cr, harus di spheroidized annealing pada temperatur diatas 800o C. Keberadaan unsur-unsur pembentuk karbida yang kuat akan meningkatkan stabilitas karbida didalam baja. Karena itu, dapat menurunkan penggumpalan dan menaikan waktu anil (proses Annealing) pada setiap temperatur spheroidized annealing yang dipilih.
2. Metode Kedua
Baja dipanaskan diatas temperatur kritik A1 (lihat gambar 1), dan diam pada temperatur waktu tertentu, kemudian diikuti dengan pendinginan yang lambat pada laju sekitar 10-20o C setiap jam sampai dengan temperatur 550- 600o C. Pendinginan sampai ke temperatur kamar dapat dilakukan asal pendinginan dilakukan diudara. Selama proses pendinginan lambat, C yang larut kedalam austenit akan memisahkan diri dan membentuk karbida yang bulat. Pada kondisi seperti ini kekerasan baja akan relatif lebih rendah. Jika temperatur anil lebih tinggi, sejumlah besar karbida akan larut dan sementit akan terbentuk dalam bentuk lamelar. Metoda ini terutama diterapkan untuk baja-baja eutektoid dan hipertektoid. Sebagai contoh prosedur anil (Gambar 1.25 pada buku Panduan proses perlakuan panas, Rochim Suratman, hal 99) untuk membulatkan keseluruhan karbida didalam matrik ferit baja DIN 100 CrMo memerlukan austenisasi pada 825o/ 830o C diikuti dengan penahanan pada temperatur 775o/ 780 oC. Proses seperti ini akan menghasilkan prestisipasi karbida. Setelah itu, kemudian didinginkan perlahan-lahan melalui rentang temperatur 740-680o C dan selanjutnya didinginkan diudara sampai temperatur kamar.
3. Metode Ketiga
Dalam metoda ini baja dipanaskan diatas temperatur kritik A1 (tidak boleh lebih tinggi dari 50o C), dan dibiarkan pada temperatur ini untuk jangka waktu tertentu, kemudian didinginkan sampai temperatur sedikit dibawah A1 (tidak boleh lebih tinggi dari 50o C), dan dibiarkan pada temperatur tersebut untuk suatu jangka waktu tertentu dan kemudian didinginkan pada temperatur kamar. Temperatur yang mendekati A1, struktur sperodisasi yang akan diperoleh lebih kasar dan lebih lunak, namun jika proses temperatur menjauhi A1, misalnya 680o C, struktur yang dihasilkannya akan berbentuk lamelar dan bersifat lebih keras. Dengan cara ini proses sperodisasinya memerlukan waktu yang lebih singkat dibanding dengan cara-cara sebelumnya dan mulai diterapkan untuk baja karbon dan baja paduan.
4. Metode Keempat
Sperodisasi dapat juga dilakukan dengan cara memanaskan dan mendinginkan yang berulang-ulang pada temperatur diatas dan dibawah A1. Selama pemanasan diatas A1, hanya butir-butir sementit yang kecil yang akan larut kedalam austenit, tetapi untuk butir-butir sementit yang besar waktu tersedia untuk larut tidak mencukupi. Pada siklus pendinginan berikutnya, molekul-molekul sementit akan mengendap pada butir-butir sementit yang tidak larut. Berdasarkan hal ini timbullah proses koagulasi. Atas dasar hal ini, metode sperodisasi memerlukan waktu yang lebih singkat tetapi sulit untuk dilaksanakannya.
Laju sperodisasi tergantung pada struktur yang dimiliki sebelumnya. Makin halus karbida pada struktur asalnya, makin mudah proses sperodisasinya. Jadi struktur perlit yang halus lebih mudah dibandingkan struktur perlit yang kasar. Struktur bainit lebih baik lagi untuk di sperodisasi dan yang terbaik adalah struktur sorbit (struktur yang diperoleh dari hasil penempern martensit). Proses pengerjaan dingin yang dapat memecahkan sementit dan mendistribusikannya secara lebih homogen dapat membantu mempercepat proses sperodisasi.
Unsur-unsur pembentuk karbida yang kuat, terutama Cr, W, Mo, dan V meningkatkan stabilitas karbida dalam baja. Karena itu unsur-unsur tersebut menurunkan laju koagulasi dan meningkatkan waktu yang diperlukan untuk soft anneal pada temperatur annealnya.
Kekerasan yang dicapai setelah proses sperodisasi tergantung pada komposisi kimia baja. Baja-baja yang mengandung karbon yang rendah menghasilkan kekerasan sekitar 160-190 HB, sedangkan pada baja paduan dan karbon tinggi, menghasilkan kekerasan sekitar 200-230 HB.
Untuk meningkatkan mampu mesin baja-baja perkakas karbon tinggi, paduan tinggi, baja pegas, baja bantalan, baja tahan aus, baja perkakas, dan sebagainya sperodisasi dilakukan setelah proses tempa. Sperodisasinya dilakukan dengan cara memanaskan baja diatas tempelatur A1 kemudian didinginkan perlahan-lahan dan ditahan pada tempelatur sedikit dibawah A1 Untuk jangka waktu tertentu kemudian diikuti dengan pendinginan diudara sampai temperatur kamar. Perlu diperhatikan bahwa, agar memperoleh struktur yang globular (bulat), baja harus dipanaskan secara homogen dan distribusi temperatur di dalam tungku juga harus homogen.
Baja-baja yang mengandung sementit dibatas butirnya relatif sulit untuk dimesin. Untuk itu, proses sperodisasinya dilakukan dengan cara mengeliminasi sementit dengan proses homogenisasi atau normalizing diatas temperatur Acm kemudian diquench dan dilanjutkan dengan proses sperodisasi.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian penyusunan materi makalah maka dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Proses Annealing pada baja karbon tinggi adalah suatu proses pelunakan dengan melakukan pemanasan sedikit diatas atau di bawah titik A1 sekitar 700o C, dikenal pula dengan istilah Spheroidized Annealing.
2. Proses Annealing pada baja karbon tinggi bertujuan memperbaiki mampu mesin dan mempebaiki mampu bentuk (hasil pemesinan yang baik).
3. Spheroidized Annealing merupakan proses annealing yang paling cocok untuk baja karbon tinggi, yang memilki 4 pilihan metode dalam pelaksanaan prosesnya.



DAFTAR PUSTAKA

Sukrawan Yusep. --. --. http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND ._TEKNIK_MESIN/196607281992021-YUSEP_SUKRAWAN/annelling.pdf diakses 16 Desember 2015

Supratman Rochim.”Panduan Peoses Perlakuan Panas”. Lembaga Penelitian ITB: Bandung 1994.

Evaporator

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pembahasan

Sejarah teknik pendinginan berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia di wilayah sub-tropik. Secara alamiah, manusia yang tinggal di wilayah sub-tropik menyadari bahwa bahan pangan yang mudah rusak ternyata dapat disimpan lebih lama dan lebih baik pada saat musim dingin dibandingkan dengan pada saat musim panas. Kesadaran inilah yang memandu manusia kemudian untuk mengembangkan teknologi pendinginan hingga sekarang. Evaporator yang akan di bahas dalam makalah ini adalah salah satu komponen penting di dalam teknologi yang sering dipakai sekarang untuk teknik pendinginan.
Evaporator adalah suatu alat dimana bahan pendingin menguap dari cair menjadi gas melalui perpindahan panas dari dinding-dindingnya. Mengambil panas dari ruangan disekitarnya dalam sistem. Evaporator harus memenuhi 2 syarat :
a. Efektif dalam penguapan refrigerant dengan penurunan tekanan yang sangat kecil.
b. Efektif dalam penyerapan panas dari media yang di inginkan.
Evaporator seperti yang yang sudah diketahui, merupakan penukar kalor yang memegang peranan penting didalam siklus refrigeransi, yaitu mendinginkan media sekitarnya.

B. Batasan Masalah
Walaupun banyak hal yang dapat digali dari evaporator, namun dalam makalah ini, penulis membatasi bahasan penulisan hanya tentang jenis evaporator.

C. Rumusan Pembahasan Makalah
Dalam penyusunan makalah ini dibuat rumusan pembahasan makalah sebagai berikut :
1. Pembagian jenis evaporator.
2. Jenis-jenis evaporator beserta spesifikasinya.
D. Tujuan Pembahasan
Dalam penyusunan makalah ini memiliki tujuan agar :
1. Mengetahui pembagian jenis evaporator.
2. Mengetahui jenis-jenis evaporator beserta spesifikasinya.

E. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan Metode Kepustakaan digital, yaitu penyusun mengkaji dan menyusun materi dari internet, berupa literatur-literatur yang sesuai dan mendukung pembahasan makalah.

BAB II
KAJIAN TEORI
1. Macam-Macam Evaporator

Ada beberapa macam evaporator, sesuai dengan tujuan penggunaanya bentuknyapun dapat berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan karena media yang hendak didinginkan dapat berupa gas, cairan, dan zat padat. Maka evaporator dapat dibagi menjadi beberapa golongan sesuai dengan keadaan refrigerant yang ada di dalamnya, yaitu : jenis expansi kering, jenis setengah basah, jenis basah, dan sistem pompa cairan.
a. Jenis expansi kering
Dalam jenis expansi kering, cairan refrigerant yang diexpansikan melalui katup expansi, pada waktu masuk ke dalam evaporatot sudah dalam keadaan campuran cair dan uap, sehingga keluar dari evaporator dalam keadaan uap kering.
Oleh sebagian besar dari evaporator terisi oleh uap refrigerant, maka perpindahan kalor yang terjadi tidak begitu besar, jika dibandingkan dengan keadaan dimana evaporator terisi oleh refrigerant cair. Akan tetapi, evaporator jenis expansi kering tidak memerlukan refrigerant dalam jumlah yang besar. Disamping itu, jumlah minyak pelumas yang tertinggal di dalam evaporator sangat kecil.
Jumlah refrigerant yang masuk ke dalam evaporator dapat diatur ileh katup expansi demikian rupa sehingg semua refrigerant meninggalkan evaporator dalam bentuk uap jenuh, dan bahkan dalam keadaan superpanas.
b. Evaporator jenis setengah basah
Evaporator jenis setengah basah adalah evaporator dengan kondisi refrigerant diantara evaporator jenis expansi kering dan evaporator jenis basah. Dalam evaporator jenis ini, selalu terdapat refrigerant cair dalam pipa penguapnya. Oleh karena itu, laju perpinfahan kalor dalam evaporator jenis setengah basah lebih tinggi dari pada yang dapat diperoleh pada jenis expansi kering, tetapi lebih rendah dari pada uang diperoleh pada jenis basah.
Pada jenis basah expansi kering, refrigerant masuk dari bagian atas dari koil: sedangakan pada evaporator jenis setengah basah, refrigerant dimasukkan dari bagian bawah koil evaporator.
c. Evaporator jenis basah
Dalam evaporator jenis basah, sehingga dari jenis evaporator terisi oleh cairan refrigerant. Prosesn penguapanya terjadi seperti pada ketel uap. Gelembung refrigerant yang terjadi karena pemanasan akan naik, pecah pada permukaan cair atau terlepas dari permukaanya. Sebagian refrigerant kemudian masuk ke dalam akumulator yang memisahkan uap dari cairan maka refrigerant yang ada dalam bentuk uap sajalah yang masuk ke dalam kompresor. Bagian refrigerant cair yang dipisahkan di dalam akumulator akan masuk kembali ke dalam evaporator, bersama-sama dengan refrigerant (cair) yang berasal dari kondensor.
Jadi tabung evaporator terisi oleh cairan refrigeran. Cairan refrigeran menyerap kalor dari pluida yang hendak digunakan (air larutan garam, dsb), yang mengalir di dalam pipa uap refrigeran yang terjadi dikumpulkan di bagian atas dari evaporator sebelum masuk ke kompresor.
Inggi permukaan cairan refrigeran yang ada di dalam evaporator diaur oleh kaup pelampung, biasanya sedikit lebih dari seengah tinggi tabung. Jumlah refrigeran yang dimasukkan ke dalam tabung evaporator disesuaikan dengan beban pendinginan yang harus dilayani.


BAB III
PENUTUPAN

1. Kesimpulan
Berdasarkan makalah di atas dapat di tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a. Evaporato adalah komponen penting yang harus ada di dalam teknologi mesin pendinginan yang sering digunakan hingga kini.
b. Berdasarkan media yang didinginkan, evaporator dapat dibagi menjadi beberapa golongan sesuai dengan keadaan refrigerant yang ada di dalamnya, yaitu :
- Jenis expansi kering.
- Jenis setengah basah.
- Jenis basah.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=macam-macam%20evaporator&source=web&cd=1&ved=0CB0QFjAA&url=http%3A%2F%2Felearning.gunadarma.ac.id%2Fdocmodul%2Fteknik_pendingin%2Fbab6_evaporator_dan_katup_expansi.pdf&ei=SCL3ToXBIoeJrAeXyJHaDw&usg=AFQjCNH2ppGcVAMprVfmN_nmoiYINeq7nA&cad=rja (Di unduh pada hari minggu, 25 Desember 2011, jam 21.00 WIB)

Pembelajaran Berbasis Masalah

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Di era globalisasi, yang ditandai oleh membanjirnya informasi dan pesatnya perkembangan teknologi, maka ”tantangan” generasi yang akan datang lebih berat dibandingkan dengan generasi terdahulu. Karena itu generasi muda juga harus dibekali sesuai dengan tantangannya ke depan. Dalam hal ini, generasi muda harus dibekali untuk kreatif, kompetitif, dan kooperatif. Untuk membekali ketiga kemampuan tersebut, dunia pendidikan memegang peranan yang sangat penting.
Dalam perkembangan dunia global yang sangat cepat ini, siswa yang mampu menghadapinya adalah siswa yang berkembang pola pikirnya dan siswa yang mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Karena itu satuan pendidikan harus mampu mengkondisikan bagaimana supaya siswa dapat menjadi pemecah masalah yang baik. Satuan pendidikan harus mampu memberikan fasilitas kepada siswa untuk mengembangkan diri terutama dalam pemecahan masalah. Jadi siswa tidak cukup kalau hanya dapat mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku teks pelajaran.
Di zaman sekarang ini, kita tidak lepas dari pada perubahan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus mampu menyiapkan siswanya untuk mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan itu tidak dapat dihentikan, tetapi hanya dapat diikuti dengan meningkatkan kreatifitas dan daya saing siswa dalam dunia global. Maka peserta didik harus dididik sesuai dengan zaman yang akan dihadapinya. Misalnya, saat ini peserta didik diajari mengetik dengan menggunakan mesin ketik manual, sedangkan peserta didik akan menghadapi dunia teknologi. Atau misalnya dalam proses pembelajaran matematika guru yang bertindak aktif, sedangkan peserta didik pasif. Padahal di era sekarang ini guru hanya sebagai fasilitator saja. Maka hal ini akan sangat tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik untuk mampu berkompetisi di era global seperti sekarang ini.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, maka secara khusus proses pembelajaran di kelas juga harus ikut ”berubah” sesuai dengan tantangan zaman tersebut, sehingga satuan pendidikan mampu menyiapkan anak yang kreatif, kooperatif dan kompetitif. Salah satu inovasi pembelajaran untuk menjadikan anak kreatif dan kompetitif dan mampu bekerja sama (kooperatif) adalah dengan menerapkan problem based learning.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian PBL itu?
2. Bagaimanakah prinsip-prinsip PBL?
3. Apa saja karakteristik-karakteristik pembelajaran berbasis masalah?
4. Bagaimana tahap-tahap pembelajaran berbasis masalah?

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PBL
Pembelajaran Berbasis Masalah atau sering disebut dengan Problem Based Learning ini memiliki beberapa arti, diantaranya :
1. Menurut Boud dan Felleti, (1997), Fogarty (1997) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pebelajar (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open ended melalui stimulus dalam belajar.
2. Menurut Arends (Nurhayati Abbas, 2000: 12) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik, sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri.
3. Menurut Ward, 2002: Stepien, dkk., 1993 menyatakan bahwa model berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.
4. Ratnaningsih, 2003: menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu metode pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik yang menuntut aktivitasnya dalam menyelesaikan masalah secara ilmiah serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensil dari pelajaran.
B. PRINSIP-PRINSIP MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah didukung oleh lingkungan belajar yang konstruktivistik. Lingkungan belajar konstruktivistik mencakup beberapa faktor yaitu (Jonassen dalam Reigeluth (Ed), 1999:218): kasus-kasus berhubungan, fleksibelitas kognisi, sumber-sumber informasi, cognitive tools, pemodelan yang dinamis, percakapan dan kolaborasi, dan dukungan sosial dan kontekstual.
1. Kasus-kasus Berhubungan
Kasus-kasus berhubungan dapat membantu siswa belajar mengidentifikasi akar masalah atau sumber masalah utama yang berdampak pada munculnya masalah yang lain. Kegiatan belajar seperti itu dapat membantu peserta didik meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari serta membantu peserta didik untuk memahami pokok-pokok permasalahan secara implisit.
1. Fleksibilitas Kognisi
Fleksibilitas kognisi merepresentasi materi pokok dalam upaya memahami kompleksitas yang berkaitan dengan domain pengetahuan. Fleksibilitas kognisi dapat ditingkatkan dengan memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memberikan ide-idenya, yang menggambarkan pemahamannya terhadap permasalahan. Fleksibilitas kognisi dapat menumbuhkan kreativitas berpikir divergen didalam mempresentasikan masalah. Dari masalah yang peserta didik tetapkan, mereka dapat mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah, mereka dapat mengemukakan ide pemecahan yang logis. Ide-ide tersebut dapat didiskusikan dahulu dalam kelompok kecil sebelum dilaksanakan.
1. Sumber-sumber Informasi
Sumber-sumber informasi, bermanfaat bagi peserta didik dalam menyelidiki permasalahan. Informasi dikonstruksi dalam model mental dan perumusan hipotesis yang menjadi titik tolak dalam memanipulasi ruang permasalahan.
1. Cognitive Tools
Cognitive tools, merupakan bantuan bagi peserta didik untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan tugas-tugasnya. Cognitive tools membantu peserta didik untuk merepresentasi apa yang diketahuinya atau apa yang dipelajarinya, dan melakukan aktivitas berpikir melalui pemberian tugas-tugas.
1. Pemodelan yang Dinamis
Pemodelan yang dimamis adalah pengetahuan yang memberikan cara-cara berpikir dan menganalisis, mengorganisasi, dan memberikan cara untuk mengungkapkan pemahaman mereka terhadap suatu fenomena.
1. Percakapan dan Kolaborasi
Percakapan dan kolaborasi, dilakukan dengan diskusi dalam proses pemecahan masalah. Diskusi secara tidak resmi dapat menumbuhkan suasana kolaborasi. Diskusi yang intensif dimana terjadi proses menjelaskan dan memperhatikan penjelasan peserta diskusi, dapat membatu siswa mengembangkan komunikasi ilmiah, argumentasi yang logis, dan sikap ilmiah.
1. Dukungan Sosial dan Kontekstual
Dukungan sosial dan kontekstual, berhubungan dengan bagaimana masalah yang menjadi fokus pembelajaran dapat membuat peserta didik termotivasi untuk memecahkannya. Dukungan sosial dalam kelompok, adanya kondisi yang saling memotivasi antar pebelajar dapat menumbuhkan kondisi ini. Suasana kompetitif antar kelompok juga dapat mendukung kinerja kelompok. Dukungan sosial dan kontekstual hendaknya dapat diakomodasi oleh para guru/dosen untuk mensukseskan pelaksanaan pembelajaran.
C. KARAKTERISTIK – KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
1. Pengajuan Masalah atau Pertanyaan
Pengaturan pembelajaran berbasis masalah berkisar pada masalah atau pertanyaan yang penting bagi siswa maupun masyarakat. Menurut Arends (Nurhayati Abbas, 2000:13) pertanyaan dan masalah yang diajukan itu haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Autentik, yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa daripada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.
b. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi peserta didik yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian peserta didik.
c. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami peserta didik. Selain itu, masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
d. Luas dan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e. Bermanfaat, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik bagi peserta didik sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah peserta didik serta membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
2. Keterkaitan dengan Berbagai Disiplin Ilmu
Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berbasis masalah hendaknya mengaitkan atau melibatkan berbagai disiplin ilmu.
3. Penyelidikan yang Autientik
Penyelidikan yang diperlukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah bersifat autentik. Selain itu penyelidikan diperlukan untuk mencari penyelisaian masalah yang bersifat nyata. Siswa menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat kesimpulan dan menggambarkan hasil akhir.
4. Menghasilkan dan Memamerkan Hasil
Pada pembelajaran berdasarkan masalah, peaserta didik bertugas menyusun hasil penelitiannya dalam bentuk karya (karya tulis atau penyelesaian) dan memamerkan hasil karyanya. Artinya hasil penyelesaian masalah peserta didik ditampilkan atau dibuatkan laporannya.
5. Kolaborasi
Pada model pembelajaran berdasarkan masalah, tugas-tugas belajar berupa masalah harus diselesaikan bersama-sama antar siswa dengan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar, dan bersama-sama antar siswa dengan guru.
D. TAHAP-TAHAP PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase dan perilaku. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.
Sintak pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:
FASE-FASE PERILAKU
Fase 1: memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik Guru menyampaikan tujuan pembelajarannya mendeskripsikan sebagai kebutuhan logistic penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah
Fase 2: mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan dengan tugas belajar terkait dengan permasalahannya.
Fase 3: membantu investigasi individu dan kelompok Guru mendukung peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari permasalahan dan solusi.
Fase 4: mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikan kepada orang lain
Fase 5: menganalisis dan mengefaluasi proses mengatasi masalah Guru membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.

E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
1. Peserta didik memiliki keterampilan penyelidikan dan terjadi interaksi yang dinamis diantara guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa.
2. Peserta didik mempunyai keterampilan mengatasi masalah.
3. Peserta didik mempunyai kemampuan mempelajari peran orang dewasa.
4. Peserta didik dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan independen
5. Keterapilan berfikir tingkat tinggi, menurut Resnick cirri-ciri berfikir tingkat tinggi adalah:
a) Bersifat non-algoritmatik, artinya jalur tindakan tidak sepenuhnya ditetapkan sebelumnya.
b) Bersifat kompleks, artinya mampu berfikir dalam berbagai perspektif atau mampu menggunakan sudut pandang.
c) Banyak solusi, artinya mampu mengemukakan dan menggunakan berbagai solusi dengan mempertimbangkan keuntungan dan kelemahan masing-masing.
d) Melibatkan interpretasi.
e) Melibatkan banyak criteria, artinya tidak semua yang menghubung dengan tugas yang ditangani telah diketahui.
f) Melibatkan pengajuan diri proses-proses berfikir.
g) Menentukan makna, menemukan struktur dalam sesuatu yang tampak tidak beraturan. Mampu mengidentifikasi pola pengetahuan.
h) Membutuhkan banyak usaha.


Kekurangan
1. Memungkinkan peserta didik menjadi jenuh karena harus berhadapan langsung dengan masalah.
2. Memungkin peserta didik kesulitan dalam memperoses sejumlah data dan informasi dalam waktu singkat, sehingga PBL ini membutuhkan waktu yang relatif lama.


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah suatu metode pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik yang menuntut aktivitasnya dalam menyelesaikan masalah secara ilmiah serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensil dari pelajaran.
Model pembelajaran berbasis masalah mempunyai beberapa prinsip yaitu : kasus-kasus berhubungan, fleksibelitas kognisi, sumber-sumber informasi, cognitive tools, pemodelan yang dinamis, percakapan dan kolaborasi, dan dukungan sosial dan kontekstual.
Tahap pembelajaran berbasis masalah terdiri dari lima fase yaitu:
Fase I : Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik
Fase II: Mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti
Fase III : Membantu investigasi individu dan kelompok
Fase IV : Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
Fase V : Menganalisis dan mengefaluasi prosesmengatasi masalah


DAFTAR PUSTAKA

http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/09/19/pembelajaran-berbasis-masalah/
http://www.bpgdisdik-jabar.net/publikasi/voli.pdf
http://www.muhfida.com/problembasedlearning.pdf