Senin, 12 Mei 2008

Antara psikologi dan filsafat.

Antara psikologi dan filsafat.



Ini adalah ulasanku yangh aku dapat dari perbincangan dengan salah seorang teman yang umurnya jauh di atasku kira-kira empat tahunan. Akan tetapi dia sangat enak untuk diajak berbicara, walau spontanitasnya pernah membuat takut dosen dan teman-teman kuliahnya ketika kuliah di ITS (Instutut Teknologi Sepuluh Nopember). Ketika itu dia dipukul dengan penggaris mika ukuran tiga puluh centimeter oleh temanya. Tanpa sadar kata-kata yang tak sewajarnya keluar dari multnya dengan sangat lantang dan penuh ekspresi kegarangan. Akan tetapi yang sebenarnya hanyalah gojekan[1]. Dan benar kata sebuah pepatah “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikanya.” Dia tidak sadar kata-kata tersebut tingkatanya sangat tinggi untuk kelas pisuhan[2].

Yang kita bahas kali ini bukan hal tersebut, dan ulasan diatas hanyalah sebuah pengantar. Dalam berbincang-bincang aku tertarik dengan masa-masa SMA dia. Akan tetapi dia malahan bertanya kepadaku,

“kamu ikut apaan to ud di universitas?”

Aku jawab, “Persma, ya kali ini banyak yang berasal dari jurusan psikologi.”

Ketika dia masih seumuranku dia juga menyatakan suka psikologi, akan tetapi dia lebih suka otak-atik sesuatu. Alasan mengapa dia suka akan psikologi aku tidak begitu paham, akan tetapi di malahan menjelaskan sebuah penjelasan yang sangat menarik.

Apa yang anda ketahui tentang psikologi? Dan filsafat. Berikut adalah pandangan dari sudut pandang Guru SMAku. Ketika aku bertanya,

“bagaimana kalau aku nanti setelah kuliah mengambil jurusan psikologi, menurut bapak bagaimana?”

Jawaban dari pertanyaanku hanya cukup dengan kata “jangan!!”. Hingga kemarin setelah perbincangan dengan temanku aku baru mengetahui alasan dari Guru SMAku.

Kuncinya hanya satu, adalah sebuah pertanyaan yang mengukur tingkatan kita disisihnya, atau derajat kita di mata Allah.

Apakah Iman Kita Kuat?”

Jikalau iman kita tidak begitu kuat, atau bahkan lemah, jadi psikolog malahan bisa jadi dukun. Memang ada benarnya, di psikologi memang diajarkan bagaimana seseorang mengetahui pribadi orang lain melewati tulisan tangan, garis tangan, astronomi, dan lain sebagainya (mungkin rekan-rekan psikologi lebih tahu dari pada diriku yang bodoh). Sayangnya banyak para dukun yang menggunakan cara-cara tersebut dengan bingkisan yang berbeda. Misal sebuah analisa dikatakan penerawangan oleh para dukun. Dan lagi-lagi kembali kepada pertanyaan tersebut.

Apakah Iman Kita kuat?

Dan sagatlah membuat bahagia jika iman kita kuat, dapat memberi pencerahan kepada orang lain, tanpa bermental seperti dukun. Dan bahkan bisa tidak jadi tema-teman juga menjadi dukun. Dan aku yakin treman-teman dari psikolog sudah mengetahui hal ini dan sudah mempunyai prinsip masing-masing serta obsesinya.

Dalam judul juga disinggung tentang filsafat, sebenarnya yang aku ketahui tentang hal tersebut tidaklah banyak. Akan tetapi hal yang paling aku takutkan ketika aku menjadi sebuah pemikir atau filsuf, agamaku akan luntur. Filsafat bukanlah ilmu yang remeh. Ingatkah ketika para cendikiawan muslim punah dari sebuah peradaban? Dan sekarang sedikit orang yang tahu sejarahnya. Kepunahan mereka bukan karena ulah orang-orang non muslim, atau dalam peperangan. Ada buku yang menceritakan sejarah pada saat itu, akan tetapi aku masih mencari-cari belum kudapatkan dan ku baca. Hanya saja Guruku pernah membacanya dan bercerita ketika membawakan materi pengajian rutin kepada kami di SMA MTA tercinta. Para cendikiawan muslim punah dikarenakan oleh perpustakaan yang didalamnya terdapat banyak buku-buku yang isinya menyesatkan, merubah polapikir dan arah pikir awal atau dasar dari pemikiranya yaitu Al-Qur’anulkarim Sang Pembeda.dan akhirnya dengan kelogisan di luar batas Al-Qur’an mereka punah dengan sendirinya. Padahal pada saat itu masa suburnya para cendikiawan muslim yang cerdas. Mereka bukanlah sekedar pemikir, melainkan pemikir-pemikir handal dan cerdas pada saat itu. Dan jika mereka tetap berdasar atas kandungan Al-Qur’an mungkin khazanah pengetahuan akan didominasi oleh para cendikiawan muslim. Dan ingatlah sebenarnya walaupun demikian banyak juga yang masih eksis mewarnai khazanah pengetahuan.

Era sekarang jika kita mau mempelajari mendalam penemuan-penemuan baru oleh para professor-profesor yang terkenal, dalam Al-Qur’an telah dikatakan sejak dahulu, sebelum mereka semua mengetahui dan berkata kepada orang lain. Harun Yahya juga sudah banyak mengulas masalah ini. Dan mari bangkit kembali para pemikir-pemikir islam yang cerdas, dan jangan lupa camkan pertanyaan diatas.

Apakah Iman Kita Sudah Kuat?

Dan aku merasa tulisan ini akan lebih menarik jika disisipkan ayat-ayat Al-Qur’an. Akan tetapi aku masih tergolong orang yang bodoh yang belum mampu dan bisa membaca Al-Qur’an secara tartil dan paham akan isi dan kandunganya yang mulia.

Dalam surah Al-Baqoroh yaitu surah kedua setelah Al-Fatikhah ayat ke dua setelah Alif Lam Mim. Di katakan oleh Allah, “Kitab[3]( Al-Qur’an) ini tidaklah ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[4]”.(Q.S. Al-Baqoroh:2;ayat:2).

Hudzaifah, 10 Mei 2008.


[1] Bahasa jawa dari istilah lelucon.

[2] Omongan kotor dan merendahkan seseorang.

[3] Allah menamakan Al-Qur’an dengan alkitab yang disini berarti “yang di tulis”, sebagai isyarat bahwa Al-Qur’an diperintahkan untuk di tulis.

[4] Taqwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.

0 komentar: