Jumat, 28 Maret 2008


pengalaman pertama bersepeda sendirian malam-malam menuju kampus UNS
azan isa’ yang merdu kudengarkan dengan samar-samar karena gemuruhnya suara gerimis yang menetes di atas seng yang menutupi halaman depan rumahku dengan suara yang berjejalan masuk di telingku. walau samar-samar tetap aku berusaha mendengarnya dengan berbagai usaha. setelah azan isa’ yang merdu kudengarkan, kulangkahkan kakiku menuju masjid yang tak jauh dari rumahku. gerimis menjatuhiku berulang-ulang dan tak ada payung yang menangkis jatuhnya air gerimis mengenai kepalaku.
“Hanya gerimis, bukan suatu halangan bagiku untuk pergi ke masjid.”
dengan sandal karet kesukaanku, akhirnya aku sampai juga di area masjid yang masih menjadi teka-teki bagi diriku sendiri. sering orang menyebutnya masjid manggen karena terletak di wilayah kampong Manggen dan masjid satu-satunya di kampong ini, tapi sekarang kebanyakan orang menyebutnya masjid MTA mungkin dikarenakan di dekat masjid tersebut terdapat cabang MTA, dan kadang dipakai untuk pengajian MTA. langsung aku menuju tempat wudhu dan kulakukan wudhu sewbagai mana semestinya. selesai wudhu iqomadpun terserukan oleh muazin yang selalu kudengarkan suaranya setiap waktu-waktu sholad. aku bergegas menyelesaikan wudhuku dan dengan singkat melihat wajahku di depan cermin yang tertempel di dinding utara masjid.
“Allahuakbar”
aku memulai ibadahku, aku berusaha khusuk, tapi entah mengapa ada perasaan yang mengganjal dalam hati dan pikiranku. setelah sholad seperti biasa aku berzkir, kemudian berdoa. sebelum aku dirikan tubuhku kemudian berjalan keluar masjid, aku memandangi seluruh jamaah sholad isa’, kucari-cari pamanku byasanya jamaah. tak kutemukan sosoknya. kemudian aku keluar dari dalam masjid, sekilas kulihatkan wajahku pada cermin, melihat rambutku apakah masih rapi. kuangkat sandalku dan membaliknya sambil jongkok, kemudian kupakai dan kakikupun melangkah dengan pelan menuju rumah. keluar area masjidaku melihat pamanku memanggil teman kakak keponakanku, orang tersebut bernama triyono, tapi sering orang menyapa dengan sapaan mbandul.
“ndul…..! tolong kesini dulu”
sambil berjalan kulihat mas mbandul menghampiri pamanku, aku tidak tahu apa yang dibicarakan pamanku dengan mas mbandul, tapi aku merasa sedikit agak lega karena melihat pamanku masih dalam keadaan sehat. tanpa piker panjang aku pulang dengan yangan bersedekap dan membiarkan tubuhku terselimuti dinginya malam yang gerimis.
“Assalamu’alaikum”
“srek.!”
ku buka pintu rumahku, dan memandang isi rumah yang berantakan. walaupun berantakan tapi tata letak meja dan perangkat lainya sangatlah bagus, karena kecilnya ruangan mungkin hal ini yang membuatnya berantakan. kakakku sedang menonton TV, adikku terlelap didepan televisi dalam dekapan ibuku, kakaku yang lain asyik smsan di kamarnya, sedangkan ayahku sedang mengunci warung dan gudang rumah. aku menghampiri mp4 player yang sedang aku chas. sebelum aku memegangnya tiba-tiba suara motor datang menuju rumahku. suara yang tidak asing lagi bagiku dan sangat khas, dan tebakanku tidak salah itu motor mas weldan kakak keponakanku dari pamanku. tapi tohalah,yang juga teman kakaku selain triyono, yang menaiki motor kakakku.
“uud ada pak?”
“ada apa to?”
“kayaknya belum pulang dari masjid”
mendengar jawaban ayahku aku langsung menampakkan diri.
“itu uud pak….”
aku bertanya pada mas toha ada urusan apa? tapi jawabnya cukup singkat
“kamu dipanggil pak Zaenal”
dalam batinku aku terus bertanya-tanya, ada apa aku dipanggil pamanku? dengan sangat terampil mas toha memutar motor kakakku dan memboncengkan aku hingga tiba di halaman rumah pamanku. langsung aku turun dan memasuki rumah pamanku. kudapati pamanku yang sedang duduk memandangi secarik kertas dan dengan kepala yang ditutupi oleh kupyah sampai baian bawah telinga. wajahnya yang keriput dan tampak kedinginan dan sedikit pucat, membuatku tampak iba melihatnya. kudekati pamanku dan menanyakan untuk apa memangilku. aku melihat kertas yang dipegangnya dan bagiku kertas tersebut tidak asing lagi. dengan suara yang agak gemetaran tetapi tegas dan lantang pamanku menanyakan kepadaku,
“ pada bagian ini bisa di perbaiki tidak? seharusnya ada kata dengan, sehingga kalimatnya berbunyi, tidak boleh berjabat tangan atau bersentuhan dengan…….! laki-laki yang bukan mahkromnya.”
“ dan pada bagian akhir belum kamu cantumkan namaku,”
“ karena nanti tulisan ini akan aku perbanyak dan aku berikan pada anak-anak putri di asrama dan sekolah”
ku jawab dengan urut dan memberikan sebuah fakta, bahwa waktu menuliskan secarik kertas tersebut di sekertariatan LPM Kentingan UNS yang beralamatkan di Graha UKM lantai 2 jalan Ir. sutami Kentingan Surakarta. ku lihat kekecewaan dalam raut wajah pamanku, seolah baginya tidak terdapat solusi yang datang, melainkan sebuah jalan yang buntu. ditemukan oleh nya sebuah solusi untuk menambah dengan tinta bolpoint setalah menolak tawaranku untuk pergi ke Graha UNS malam-malam karena kasihan kepadaku. akupun agak setuju dengan pandapatnya, dan meng iyakan perkataanya agar tidak lagi bertambah rasa kekecewaanya lagi. aku langsung pulang, dalam perjalanan hatiku mengapa berontak dengan pandapat pamanku, dan akupun merasa bersalah. jangan gara-gara kekecewaan ini pamanku kambuh sakit jantungnya. akupun memutar otakku sambil melangkah pulang. untuk pergi ke Graha ukm. jika naik motor, pamankupun jika tahu pasti melarang, dan tentunya motor siapa yang nantinya aku naikin?
“oya, aku kan bisa bersepada kesana”
ide gila ini tiba-tiba muncul dalam otakku. kupikirkan matang-matang ide ini, apa resikonya dan bagaimana mengatasi resikonya. dalam batinku berkata, aku adalah laki-laki harus bisa mengambil keputusan dan menanggung resikonya, walaupun itu berat. aku berpikir tentang resiko jika aku bersepeda malam-malam adalah di begal oleh orang, dan jika ketahuan pamanku, malah menjadikanya bertambah berpikir berat, dan selanjutnya menjadi ketakutanku pada keadaan pamanku. tanpa banyak tinkah dan sedikit menjawab pertanyaan ayahku, aku memasukkan barang-barang yang aku butuhkan untuk pergi ke Graha ukm ke dalam tas gendong kecilku. ku ambil mp4 yang baru aku chas, dan ku jejalkan eir phon ke telingaku, dan berjalan menuju masjid. karena di dekat masjid tersebut ada sebuah sepeda yang biasa aku pakai, dan itupun bukan milikku, melainkan juga milik pamanku.
dalam perjalanan ku sms mas widhita seniorku di LPM Kentingan yang menjadi mbaurekso atau penungu kesekertariatan LPM Kentingan.
“ mas di sana hujan tidak?”
“tidak, kesini saja!”
“sebentar tunggu aku kira-kira satu jam, aku akan tiba”
ku hampiri sepeda tersebut dan mengecek ban sepeda apakah nantinya bisa berjalan hingga tujuan dan langsung kunaiki sepeda tersebut dengan pelan dan berhati-hati menuju utara kampung agar tak seorangpun memperhatikanku. hanya music dari linkiparklah yang menemaniku di atas sepeda. menyisiri kampung dan menerobos kampung sebelah dengan sepeda tanpa menyapa orang, agar tidak terlalu diperhatikan, walaupun biasanya kusapa orang yang aku kenal, dan orang-orang tua yang sedang duduk-duduk dan berbincang di bawah lampu merkuri. diatas sepeda aku memikirkan rute perjalananku yang sekiranya aman aku lewati. dari menyisiri kampungku yaitu kampung manang kemudian menerobos kampung mranggen, mbadongan, sangGrahan hingga cemani. setelah itu aku mengambil jalan menuju jalan slamet ryadi. jalan dimana telah di bangun city walk.jalan kebanggaan kota solo. sesampai di sriwedari kukayuh sepedaku menaiki area city walk, dan melihat wanita tinggi besar cantik berdiri di pinggiran city walk. ku amati dengan seksama, dan tak habis berpikir mengapa wanita tersebut berada di tempat seperti ini malam-malam.
“Astagfirullah…… Astagfirullah….”
spontan kata-kata tersebyt keluar dari mulutku, dengan agak takut dan tertawa dalam hati karena mengetahui bahwa wanita tersebut adalah seorang banci. akupun mengayuh sepeda agak cepat dari semula. dan pada celah ke empat dari awal aku menaiki city walk, yang langsung berhubunga dengan jalan slamet ryadi aku mulai menyebrang ke utara. ku lihat kiri apakah sudah sepi dan bisa akku menyebrang dengan aman. jalan slamet ryadi masih dalam satu arah karena masih di bawah jam sepuluh malam. ku melewati trotoal sebelah utara jalan slamet ryadi. kudapati orang-orang keturunan tiong hua atau cina yang selesai bekerja dan memasuki mobilnya. banyak jajanan di pinggiran jalan slamet ryadi, dari orang yang berjualan susu segar dan roti bakar hingga hik (hidangan istimewa kampung) yang juga merupakan cirikhas kota solo di malam hari ter sedia di sisni. tepatnya setelah melewati kantor bank jateng kulihat orang yang seumuran kira-kira tiga puluhan tahun sedang memakai celana dengan susah.
“ orang ini gila atau memang orang kere”
jawaban dari pertanyaanku ini masih belum aku temukan, bayangkan saja orang tersebut memakai celana tapi tidak bisa-bisa, sedangkan tanpa sehelai kain pun yang menutupi aurotnya, apa mungkin ia lupa cara memakai celana? aku terus mengayuh sepadaku dan kudapati kembali orang bermain catur yang sedang seru. hening suasana ketika melewati orang yang bermain catur tersebut. tanpa kisadari aku telah melewati rutan kota solo. dan sebentar lagi sampai di gladak. keramaian sekaten agak menyusut ketika sesampai di gladak, mungkin karena acara utama sekaten telah usai kemarin siang dan kini tiunggal pasar malamnya yang mengiringi keramaian sekaten tiap tahunya. kubelokkan sepedaku menuju balai kota dan menerjang lampu merah dengan hati-hati dan tanpa keraguan. membelah pasar gede dan merambat hingga perlintasan kereta api ledoksari. ku berhenti sekitar lima menitan menanti kereta melintas dan berjalan kembali melewati kampus psikologi. sepedaku terasa bertambah berat, tapi tetap aku kayuh walaupun pelan. aku mencari tempat peristirahatan yang selaras dengan suasana hatiku. ku berhenti di depan salon kecantikan yang aku lupa namanya, mungkin besok aku tulis lagi. ku pencet ban sepedaku ternyata masih sama tewkananya waktu sebelum berangkat, dan ternyata aku sudah merasa kelelahan walau tak aku hiraukan dan berjalan pelan-pelan. melewati rumah sakit Dr moewardi ada kumpulan pengamen yang bernyanyi di depan pos satpam. mungkin di tanggap oleh satpam ataukah memang sengaja ngamen biar biberi sepeser uang, entah apa alasanya aku tidak begitu paham dan terus melanjutkan perjalananku. sesampai di perempatan selatan pedaringan aku menerobos lampu merah kembali dan dengan kencang sepedaku melaju tanpa aku kayuh karena turunan yang melajukan sepedaku. sampailah aku di gerbang belakan kampus UNS yang tertutup jika hari libur. walaupun gerbang tertutup, aku tetap bisa melewatinya dengan menggotong sepedaku melewati gerbang kecil samping barat gerbang utama. kuparkirkan sepedaku dan kikunci. melangkahkan kakiku menuju lantai dua Graham ukm UNS tempat sekertariatan LPM Kentingan. di lantai satu terdapat pelatih psht (aku tidak tahu namanya)yang sedang duduk di kursi dan berbincang-bincang. ku sapa dan langsung menaiki anak tangga, kudapati dalam ruangan Graham ukm LPM Kentingan mas widhita dengan mas gemblink. langsung aku menuju computer mengedit tulisanku kemarin dan langsung aku print. jika langsung pulang tentunya nanggung, jadi aku mengambil keputusan untuk tidur di sekertariatan LPM Kentingan dan nanti pulang sekitar jam tiga pagi, agar orang rumah tidak curiga aku pergi ke kampus malam-malam dengan bersepeda. selanjutnya aku tidur dulu nanti setelah bangun dan pulang kembali lagi ke sini aku tulis lagi, tapi mohon di edit ya. trimzSS

Rabu, 19 Maret 2008

kata pengantar

Wanita Muslimah Dan Busana

1. Jika kita berbicara tentang aurot, maka tidak akan terlepas dari sebuah kata yang sudah terekam di dalam otak kita, yaitu busana. aurot dan busana keduanya tidak bisa di pisahkan, sebab aurot itu sendiri adalah bagian anggota tubuh yang harus ditutup. sedangkan busana adalah alat untuk menutup aurot, dan inilah salah satu fungsi dari busana. sehingga keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

diantara fungsi busana muslimah adalah:

a. Busana muslimah berfungsi sebagai penutup aurot.

b. Busana muslimah berfungsi sebagai identitas bagi wanita islam, yang dengan busana itu bisa diketahui dan dibedakan antara wanita islam dan non-islam. maka busana muslimah adalah tanda pengenal wanita islam.

c. Untuk menjaga martabat dan kehormatan kaum wanita dan akan melindunginya dari segala keadaan yang nantinya akan menyeret wanita kepada derajad yang menghinakan.

lihat: Q.S. Annur 31.

Q.S. Al-Ahzab 59.

Q.A. Al-Arof 26.

2. Adapun busana muslimah adalah harus memenuhi ketentuan dan persyaratan bagaimana yang tersebut di bawah ini:

a. Busana muslimah wajib menutupi aurot (seluruh tubuh) kecuali muka dan kedua tapak tangan. (Al-hadist)

b. Busana muslimah tidak boleh tipis dan merangsang (transparan). (Al-Hadits)

c. Busana muslimah harus lebar dan tidak sempit dan tidak membentuk tubuh. (Al-Hadits)

d. Busana muslimah tidak boleh berbau parfum (wangi-wangian). (Al-Hadits)

e. Busana muslimah tidak boleh menyerupai busana laki-laki. (Al-Hadits)

3. Larangan Bagi Wanita Muslim

a. Tidak boleh mencukur rambutnya : (menggundul). (Al-Hadits)

b. Tidak boleh menyambung rambut dan membuat tai lalat palsu. (Al-Hadits)

c. Tidak boleh berjabat tangan (bersentuhan) laki-laki yang bukan mahkromnya. (Al-Hadits)

d. Tidak boleh berduaan dengan laki-laki yang bukan mahkromnya. (Al-Hadits)

e. Tidak boleh bepergian sendirian tanpa mahkrom. (Al-Hadits)